Tengoklah Derita Warga Rohingya di Pengungsian...

Ratusan warga Rohingya, termasuk anak-anak, harus berdesak-desakan untuk mendapatkan paket bantuan yang dilempar dari truk di Balukhali, Kota Cox's Bazar, Banglades.

Di wilayah yang berbatasan dengan Myanmar itu, banyak wanita terlihat berjejalan dengan balita diusung di pundak mereka, dan harus berdiri di bawah guyuran hujan deras.


Tak lain, mereka hanya menunggu bantuan makanan, terpal dan juga pakaian yang didistribusikan orang-orang Banglades.

Biasanya, pola penyebaran bantuan itu dilakukan secara acak, dengan truk terbuka yang melintasi kamp pengungsi dan kemudian melempar keluar bantuan itu.

Kekacauan pun muncul. Seperti yang terjadi di sekitar Balukhali, di mana sejumlah besar warga Rohingya dari wilayah Rakhine mengungsi.

Hujan deras menambah kesengsaraan mereka sebagai kelompok etnis yang teraniaya.

Lebih dari separuh dari jumlah perkiraan total 412.000 warga Rohingya yang telah lolos dari kekerasan di Myanmar, tinggal di tempat sementara, tanpa tempat tinggal yang layak, air minum bersih, dan sanitasi.

Pada hari Minggu kemarin, petugas polisi dan tentara terlihat mulai memeriksa kendaraan yang datang dari kamp menuju Kota Cox's Bazar.

Pemeriksaan itu terjadi sehari setelah Pemerintah Banglades mengumumkan pembatasan pada gerakan para pengungsi.

Arefa, bersama ratusan orang Rohingya, termasuk di antara orang banyak yang menunggu bantuan yang sangat dibutuhkan.

Dia basah kuyup, menahan anak perempuannya yang berusia dua tahun, Minara di bahunya.

Arefa menangis. Dia bilang, tidak ada makanan untuknya dan kedua anaknya.

"Saya tidak punya makanan, tidak ada tempat berlindung dan tidak ada cara untuk memasak apa pun, saya belum merasa lega," kata dia sambil meneteskan air mata.

"Jika saya mendapatkan bantuan ya saya makan, kalau tidak saya kelaparan."

Arefa, yang tiba di sini dua hari yang lalu dari desa Lambaguna di Distrik Akyab, mengaku berusia 40 tahun.

Namun penampakannya terlihat jauh lebih muda. Suaminya, Nabi Hussain, ditembak mati oleh militer Myanmar, kata dia.

Seorang rekannya warga Rohingya lain menawarinya tenda untuk berbagi, hingga dia bisa menata hidupnya sendiri.

Namun, di pusat distribusi bantuan swasta di Balukhali, dia tidak beruntung.

Manzoor Ahmed, seorang pengungsi lain, terlihat telah memasang sebuah tenda di lahan pribadi yang disediakan oleh seorang warga Banglades.

"Ini benar-benar buruk, air masuk ke rumah kita, seluruh daerah banjir," kata dia mengomentari bencana banjir yang datang menghantam kamp pengungsian.

"Saya tidak punya tempat untuk tidur, otak saya tidak bekerja, saya tidak tahu harus berbuat apa."

Pria berusia 65 tahun itu tiba di Balukhali tiga hari lalu, bersama 11 anggota keluarganya.

Dia bilang dia beruntung, sebab tak satu pun anggota keluarganya terbunuh.

Lembaga bantuan memperingatkan bahwa operasi penyaluran bantuan harus dibenahi.

Koordinasi antara badan-badan kemanusiaan, LSM lokal, dan pihak berwenang sangat penting, kata mereka.

"Kami mencoba untuk memperluas kegiatan kami, dan membangun klinik dan pos kesehatan baru untuk memberikan akses dasar terhadap perawatan kesehatan."

"Namun pada akhirnya semua akan terlipat oleh tantangan infrastruktur dan logistik," kata Robert Onus, koordinator di organisasi Doctors Without Borders (MSF).

"Skala krisis mungkin tidak bisa dipahami oleh semua orang, karena tidak mungkin dijelaskan kecuali jika Anda melihatnya dengan mata kepala sendiri," kata Onus kepada Al Jazeera.




loading...
Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)

Populer